Ketika Perawat RS Sempat Kebingungan Melayani Pasien Transgender






Jakarta, Seperti orang kebanyakan, Brandon James (bukan nama sebenarnya) langsung pergi ke RS ketika ia merasakan ada keluhan di tubuhnya. Sayang, ketika tiba di RS, petugas medis terutama perawat kebingungan harus memasukkan James ke kamar perawatan pasien perempuan atau lelaki.

Sebab, James adalah seorang pria transgender yang dulunya seorang wanita. Ketika melakukan registrasi, James mendaftarkan diri sebagai pria. Namun, di Surat Izin Mengemudi (SIM) dan catatan RS terdahulu, James disebut sebagai wanita.

"Perawat datang dan bebebrapa dari mereka berdebat bahwa saya perempuan sedangkan perawat lain mengatakan saya lelaki. Saya hanya ingin mendapat perawatan, bukan dijadikan tontonan dan bahan perdebatan seperti itu, seakan-akan saya adalah orang yang aneh," kata James.

Masih sabar menunggu selama beberapa jam, akhirnya ada seorang perawat yang memanggil James hingga ia pun mendapat perawatan di Unit Gawat Darurat. Terkait hal ini, salah satu penulis studi dalam Journal of Nursing Emergency, Ethan Cicero, mengatakan hal yang dialami James memang sering terjadi pada kaum transgender.

Hal ini terjadi karena petugas medis, termasuk staf RS sendiri mengalami kebingungan terhadap status gender para transgender yang belum terkonfirmasi. Bahkan, berdasarkan data National Center for Gender Equality tahun 2012, 19 persen transgender ditolak di RS karena status gendernya yang dianggap belum jelas. Kemudian, 28 persen mengaku menunda perawatan medis karena mendapat diskriminasi.

"Untuk itu, dibutuhkan pelatihan khusus atau rekomendasi untuk petugas medis ketika ada transgender yang datang berobat. Pertama-tama, mereka jangan merasa malu atau sungkan bertanya identitas si pasien saat ini adalah pria atau wanita," tutur James kepada CBS News dan dikutip pada Rabu (30/9/2015).

Setelah memastikan si pasien ingin diposisikan sebagai pasien pria atau wanita, gunakan kata sapaan yang tepat. Kemudian, jaga percakapan seputar hal-hal klinis saja. Artinya, bicarakan hal-hal yang memang berkaitan dengan masalah medis pasien. Lalu, tempatkan pasien sesuai dengan identitasnya saat itu.

"Bagaimanapun, sesuaikan tempat perawatan pasien di ruang UGD dengan kondisi pasien saat itu. Jika memang saat itu pasien sudah menjadi lelaki, tempatkan ia di tempat perawatan pasien laki-laki," lanjut Cicero.

Menangapi hal ini, presiden Emergency Nurses Association (ENA), Matthew F Powers mengatakan perawat di UGD adalah lini utama dalam pembrian layanan kesehatan bagi masyarakat. Semua pasien, termasuk para transgender pun harus dilayani dengan penuh hormat dan tanpa dibeda-bedakan.

"ENA mendukung kesetaraan dalam pelayanan kesehatan sehingga mungkin diperlukan pelatihan lebih bagi petugas medis supaya mereka bisa melayani semua pasien dengan baik dan sesuai," kata Powers.

0 Response to "Ketika Perawat RS Sempat Kebingungan Melayani Pasien Transgender"

Posting Komentar